Pages

Minggu, 09 November 2014

KEJANG DEMAM


ASKEP KEJANG DEMAM

1.      Konsep Dasar Medis
1.1  Pengertian
(1)      Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (lebih dari 38 oC) yang disebabkan oleh proses ekstra kranial (Ngastiyah, 1997 : 229).
(2)      Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada saat suhu meningkat yang disebabkan oleh proses ekstra kranial (Saharso D, 1997 : 148).
1.2  Faktor Pencetus
Kejang demam pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar susunansaraf pusat misalnya tonsilitis, bronkitis ( Ngastiyah,1997; 231).
1.3  Patofisiologi
       Pada keadaan demam kenaikan suhu 10c akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan o2 akan meningkat 20%. Kenakan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi ion k+ maupun Na+, melalui membran tersebut sehingga terjadi lepas muatan listrik, hal ini bisa meluas ke seluruh sel maupun ke bembran sel sekitarnya dengan bantuan neuron transmiter dan terjadilah kejang. Kejang yang berlangsung lama disertai dengan apnea, meningkatkan kebutuhan o2 dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnea dll,selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat hingga terjadi kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama(Ngastiyah,1997;229)

Gangguan elektron (Na+, K+, Cl+) bangkitan aliran listrik            jaringan tubuh
Susunan saraf pusat terganggu
Hambatan pada pusat pernafasan
Spasme bronkus
Produksi ATP
Hipoksia
Asam laktat
Kebutuhan glukosa
Pencernaan
- Mual, muntah, dipsni.
Pernafasan
-          Dyspneu
-          Sekresi
Susunan saraf
- Distosia, disfagia, epilepsi kronik, gangguan kesadaran, peningkatan TIK, kerusakan otak.



Nutrisi kurang dari kebutuhan
 
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
 
Pola nafas tidak efektif
 
Gangguan rasa nyaman (nyeri)
 
Bersihan jalan nafas tidak efektif
 
Resiko injuri
 





1.4  Klasifikasi
(1)      Kejang demam sederhana.
-          Umur 6 bulan sampai 4 tahun.
-          Lama kejang tidak lebih 15 menit.
-          Kejang bersifat umum.
-          Kejang terjadi 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
-          EEG normal 1 minggu setelah kejang.
-          Frekwensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 1 kali.       
(2)      Epilepsi yang diprofokasi oleh demam.
Semua kejang demam yang bukan kriteria diatas.
1.5  Diagnosa Banding
(1)      Meningitis.
(2)      Enchepalitis.
(3)      Abses otak.
1.6  Prognosa
Resiko yang akan dihadapi oleh seorang anak sesudah menderita kejang demam tergantung dari faktor :
(1)      Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.
(2)      Kelainan dalam perkembangan atau kelainan syaraf sebelum anak menderita kejang demam.
(3)      Kejang yang berlangsung lama atau kejang fokal.
Bila terdapat paling sedikit 2 dari 3 faktor diatas maka dikemudian hari akan mengalami serangan kejang demam sekitar 13% dibanding bila hanya terdapat 1 atau tidak sama sekali, faktor diatas serangan kejang tanpa demam hanya 2-3 %.
1.7  Penatalaksanaan Medis
(1)      Memberantas kejang secepat mungkin.
Obat pilihan utama adalah Diazepam IV yaitu untuk menekan kejang        80-90 % dosis sesuai dengan BB kurang dari 10 kg 0,5-0,75 mg/BB, diatas 20 kg 0,5 mg/kg BB. Setelah suntikan pertama secara iv di tunggu 15 menit bila masih terdapat kejang diulangi suntikan ke dua dengan dosis yang sama secara iv jika masih kejang maka di berikan lagi tapi secara im.
(2)      Pengobatan penunjang.
-          Semua pakaian dibuka.
-          Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi.
-          Usahakan jalan nafas bebas.
-          Penghisapan lendir teratur.
-          Fungsi TTV di observasi ketat, jika adanya tekanan intra kranial yang meningkat tidak boleh di berikan cairan dengan Na yang terlalu tinggi.
(3)      Pengobatan rumat.
-          Pengobatan profilaksis intermiten.
-          Pengobatan intermiten jangka panjang.
(4)      Mencari dan mengobati penyebab.
Secara akademis klien dengan kejang demam pertama kali sebaiknya dilakukan pungsi lumbal, pada klien yang diketahui kejang lama pemeriksaan lebih intensif seperti pungsi lumbal, gula darah dll dan bila perlu rontgen foto thorak, EEG, enchephalografi.
1.8  Penatalaksanaan Keperawatan
Prinsip penatalaksanaan bila anak kejang
(1)      Segera hentikan kejang
(2)      Mencari penyebab
(3)      Cegah kejang berulang
Tindakan keperawatan:
(1)   Baringkan klien di tempat yang rata, kepala dimiringkan dan pasang sudip lidah yang telah dibungkus kasa.
(2) Singkirkan benda-benda yang ada di sekitar klien, lepaskan pakaian yang    mengganggu pernafasan, misalnya : ikat pinggang, gurita.
1.9    Komplikasi
(1)      Lidah terluka/tergigit.
(2)      Apnea.
(3)      Depresi pusat pernafasan.
(4)      Retardasi mental.
(5)      Pneumonia aspirasi.
(6)      Status epileptikus.
2.      Konsep Dasar Askep
2.1  Pengkajian
(1)      Biodata
Umur biasanya 6 bulan sampai 4 tahun, jenis klelamin laki-laki perempuan  2 : 1, insiden tertinggi pada anak umur 2 ta hun.
(2)      Keluhan Utama
Kejang karena panas.

(3)      Riwayat Penyakit Sekarang
Lama kejang kurang dari 15 menit bersifat general dan terjadi dalam waktu 16 jam setelah demam.
(4)      Riwayat Penyaklit Dahulu
Perlu pengkajian untuk mengetahui adanya faktor penting terjadinya kejang demam antara lain : trauma reaksi terhadap imunisasi dll.
(5)      Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya keluarga yang menderita kejang demam.
(6)      Activity Dayli Life
-          Nutrisi
Klien akan mengeluh sensitif dengan makanan yang merangsang aktivitas kejang, kerusakan gigi, adanya hiperplasi ginggiva sebagai akibat efek samping Dilantin.
-          Istirahat dan aktivitas
Klien cepat lelah, letih dan perubahan tonus otot. 
(7)      Pemeriksaan fisik
-          TTV
Penurunan kesadaran, peningkatan suhu tubuh, nadi, tensi dan respirasi.
-          Kepala
§  Mata : dilatasi pupil, kedipan kelopak mata, kepala dan mata menyimpang  ke satu sisi.
§  Wajah : sentakan wajah.
§  Mulut : produksi saliva berlebihan, bibir mengecap-ngecap.
-          Thorak
Penurunan gerakan pernafasan, apnea, tachipnea, kesulitan bernafas, jalan nafas tersumbat.
-          Ekstremitas
Gerakan sentakan, tepukan, menggaruk, perubahan tonus otot.
(8)      Pemeriksaan panunjang
-          Glukosa : hipoglikemia.
-          Ureum/kreatinin : meningkat.
-          Erytrosit : anemia aplastik.
-          Rontgen kepala.
-          Lumbal pungsi.: untuk menentukan penyebab kejang ,apakah karena infeksi intra kranial/ bukan.
-          EEG.
-          MRI.
-          CT Scan.
2.2  Diagnosa Keperawatan (Susan Martin Tucker, 1998 : 483)
(1)     Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan adanya pirogen yang mengacaukan termostat, dehidrasi.
(2)     Resiko terjadinya ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler obstruksi trancheobronchial.
(3)     Kurangnya pengetahuan keluarga berhubugan dengan misinterpretasi dan keterbatasan pengetahuan.
(4)      Resiko terjadinya trauma berhubungan dengan kelemahan, perubahan kesadaran.
(5)      Resiko injuri berhubungan dengan perkembangan kognitif.
2.3  Perencanaan
(1)      Diagnosa I
-          Tujuan : suhu tubuh normal.
-          Kriteria hasil : suhu 365 – 375 oC.
-          Rencana tindakan :
§  Observasi TTV tiap 4 jam.
R /     Perubahan TTV khususnya peningkatan suhu tubuh mengidentifikasikan beratnya kejang.
§  Kompres dingin dan ajarkan keluarga cara mengompres.
R /     Pada kompres dingin terjadi perpindahan panas secara konduksi.
§  Berikan pakaian tipis yang menyerap keringat.
R /     Pakaian yang tipis membantu mempercepat pengeluaran panas.
§  Anjurkan  klien untuk banyak minum.
R /     Minum yang banyak mencegah terjadinya dehidrasi sehingga peningkatan suhu tubuh dapat dicegah.
§  Kolaborasi pemberian antibiotik dan antipiretik.
R /     Antipiretik berfungsi untuk penurunan panas sedangkan antibiotik untuk mencegah infeksi.
  
(2)      Diagnosa II
-          Tujuan : mempertahankan aktivitas pola nafas dengan jalan nafas yang bersih.
-          Kriteria hasil : respirasi normal 15 – 20 kali/menit, tidak ada retraksi otot.
-          Rencana tindakan :
§  Letakkan klien dalam posisi yang nyaman (miring, permukaan datar, miringkan kepala selama serangan kejang).
R /     Meningkatkan aliran skret, mencegah lidah jatuh dan tersumbatnya kjalan nafas.
§  Longgarkan pakaian terutama pada leher, dada dan perut.
R /     Sebagai fasilitas sebagai usaha unuk bernafas.
§  Suction bila perlu.
R /      Menurunkan resiko aspirasi dan asfiksia.
§  Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
R /     Menurunkan hipoksia cerebral akibat dari sirkulasi yang menurunkan/oksigen skunder terhadap spasme selama serangan kejang.
(3)      Diagnosa III
-          Tujuan : Secara verbal klien dapat mengungkapkan stimulasi yang dapat meningkatkan kejang.
-          Kriteria hasil : Klien dapat minum obat secara teratur.
-          Rencana tindakan :
§  Kaji pengobatan yang sudah dijalankan.
R /     Mengevaluasi keberhasilan pegobatan.
§  Diskusikan tentang efek samping obat.
R /     Membantu mengetahui dan mengenal efek samping yang terjadi sehingga dapat menentukan  program pengobatan lanjut.
§  Ajarkan pada ibu untuk pemberian obat anti kejang/ anti piretik sesuai program medis.
R /     Meningkatkan pengetahuan dan kemandirian ibu daalam perawatan dan pengobatan.
§  Jelaskan/anjurkan pada keluarga unrtuk mngatasi terjadinya kejang.
R /     Keluarga dapat melakukan tindakan awal dan menghindari kejang berkelanjutan.
§  Segera turunkan panas bila terjadi panas.
R /      Panas merupakan faktor predisposisi terjadinya kejang. 
4) Diagnosa IV
   - Tujuan : Secara verbal keluarga klien dapat mengetahui faktor yang memungkinkan terjadinya trauma
    - Kriteria hasil : Tidak terjadi injuri selama perawatan
Rencana tindakan
·         Jelaskan pada keluarga beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi kejang
R/  Informasi yang adekuat meningkatkan pengetahuan dan kemandirian
·         Jaga klien dari injuri dengan mem berikan pengaman pada sisi tempat tidur
R/ Mencegah terjadinya injuri
·         Tinggallah bersama klien selama fase kejang
R/ meningkatkan keamanan klien, mencegah terjadinya injuri atau trauma
5) Diagnosa V
-Tujuan : secara verbal keluarga klien dapat mengetahui  faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan kognitif anak.
- Kriteria hasil : tidak terjadi gangguan perkembangan kognitif.
-          Rencana tindakan :
·         Cegah terjadinya kejang berulang
R/ Kejang yang terus menerus dapat merusak sistem syaraf dan kemunduran mental
·         Lanjutkan kolaborasi dengan tim medis
1 Diasepam / iv
2 Fenobarbital / im
R/ Diasepam atau fenobarbital dapat mengurangi status konfulsion.
                                                                                                                                                                                                                                                                                       



Kamis, 06 November 2014

GEA


ASUHAN KEPERAWATAN GASTROENTERITIS AKUT

A.   TINJAUAN UMUM
1.  DEFENISI
a.  Gastroenteritis (diare akut) adalah inflamasi lambung dan     usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus, dan pathogen parasitik. (Wong, 2004).
b.  Gastroenteritis adalah defekasi encer lebih dari tiga kali dengan / tanpa darah dan atau lendir dalam tinja. (Silvia A. Price, 2005)
c.  Gastroenteritis akut adalah diare yang terjadi lebih dari 3 minggu yang terutama ditemukan pada sindrom pasca enteritis, intoleransi laktosa, cow´s milk protein  intoleransi (C.L Betz, 2002)
d.      Gastroenteritis adalah kondisi dimana terjadi frekwensi defekasi yang abnormal (lebih dari 3 kali/hari) serta perubahan dalam isi (lebih dari 200 g / hari) dan konsistensi feses cair. (Brunner & Suddarth ; 2002).
           Berdasarkan uraian pengertian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa Gastroenteritis adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus,  pathogen parasitik yang terjadi lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi feses cair dengan/tanpa darah dan atau lendir dalam tinja.
2.     ETIOLOGI
        Ada beberapa penyebab Gastroenteritis
v  Penyebab langsung      
1. Infeksi :
a) infeksi virus (rota virus dan virus echo)
b) infeksi bakteri (Vibriocoma, Ecserchia coli, salmonella, shigella, yarsinia enterecolica).
c) infeksi parasit (cacing protozoa dan jamur)
2. Non infeksi :
a) Alergi makanan : susu dan protein
b) Gangguan metabolic atau malabsorbsi
c) Iritasi langsung pada saluran pencernaan oleh makanan.   
v  Penyebab tidak langsung
            Alergi, kesehatan, cuaca, musim, umur, dan lingkungan. (C.L Betzar, A. Sowden, 2002)
3.  PATOFISIOLOGI
Diare sekresi biasanya diare dengan volume banyak disebabkan oleh peningkatan produksi dan sekresi air, serta elektrolit oleh mukosa usus, kedalam lumen usus. Diare osmotic terjadi bila air terdorong kedalam usus oleh tekanan osmotic dari partikel yang tidak dapat diabsorbsi sehingga reabsorbsi air menjadi lambat. Diare osmotic campuran disebabkan oleh peningkatan kerja peristaltic dari usus, (biasanya karena penyakit usus implamasi dari kombinasi peningkatan sekresi atau penurunan absorbsi dalam usus. (Sylvia A. Price, 2005).
4.  MANIFESTASI KLINIK
Frekuensi defekasi meningkat bersamaan dengan meningkatnya kandungan cairan dalam feses. Pasien mengeluh kram perut, distensi, gemuruh usus (borboringus), anoreksia, dan haus. Kontraksi spasmosik yang nyeri dan peregangan yang tidak efektif pada anus dapat terjadi pada setiap defekasi.
Gastroenteroitis dapat eksploratif atau bertahap dalam sifat dan awitan. Gejala yang berkaitan langsung dalam diare diantaranya adalah dehidrasi dan kelemahan. Feses berair adalah karateristik dari penyakit usus halus dan adanya mucus dan pus dalam feses menunjukkan adanya ebteritis inflamasi atau colitis. (Sylvia A. Price, 2005).
5.  EVALUASI DIAGNOSTIK
Apabila penyebab Gastroenteritis tidak terbukti maka tes diagnostic berikut harus dilakukan yaitu :
a.    Hitung darah lengkap.
b.    Sifat kimia
c.    Urinalisis
d.    Pemeriksaan feses rutin
e.    Pemeriksaan feses untuk infeksi atau parasit.  (Sylvia A. Price, 2005).
6.  PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan medis utama diarahkan pada pengendalian atau pengobatan penyakit dasar. Obat-obatan tertentu misalnya prednisone dapat mengurangi beratnya diare dan penyakit.
Untuk diare ringan cairan oral dengan segera ditingkatkan dan glikosa serta elektrolit dapat diberikan untuk rehidrasi ringan. (Sylvia A. Price, 2005).
7. KOMPLIKASI
          a. Cardiac Dysritmia
          b. Asidosis metabolic                                   
          c. Dehidrasi
          d. Hipotensi
          e. Kematian

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Untuk melaksanakan asuhan keperawatan digunakan suatau pendekatan proses  keperawatan yang terdiri dari langkah-langkah ilmiah yaitu : Pengkajian Keperawatan, Dampak Kebutuhan Dasar Manusia (KDM), Diagnosa Keperawatan, Intervensi Keperawatan, Implementasi Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan.(Wartonoh, 2006)
1. Pengkajian Keperawatan
Data pengkajian keperawatan pada pasien yang   mengalami Gastroenteritis adalah sebagai berikut.
a. Pengumpulan data
1)    Aktifitas / Istirahat
Gejala : Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah, perasaan gelisah,     ansietas. Pembatasan aktifitas/kerja sehubungan dengan proses  penyakit.
2)   Integritas ego
Gejala  : Ansietas, ketakutan, emosi, kesal, perasaan tak berdaya/ tak ada harapan.Faktor  stress akut/kronis, misalnya : hubungan keluarga/pekerjaan, pengobatan yang mahal.Faktor budaya /peningkatan pervalensi pada populasi yahudi sering  meningkat pada individu Eropa Utara dan keturunan Angio-Saxon. Tanda   :  Menolak, perhatian menyempit, depresi.     
3)    Eliminasi
Gejala  :   Episode diare yang tak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering, tak terkontrol, flatus lembut dan semiciar, bau busuk dan berlemak  (steatore), melena.
4)    Makanan/cairan
Gejala  :  Anoreksia : mual/muntah , penurunan berat badan, tak toleran pada diet, produk susu, makanan berlemak. Tanda : Penurunan lemak subkutan/massa otot. Kelemahan,tonus otot buruk dan turgor kulit buruk, membran mukosa pucat.
5)    Hygiene
Tanda   :    Ketidak mampuan menghadapi perawatan diri, bau badan.
6)    Nyeri/Kenyamanan
Gejala  :     Nyeri tekan abdomen dengan nyeri kram pada kuadran kanan bawah  ; nyeri abdomen tengah bawah (keterlibatan jejunum), nyeri tekan menyebar kebagian periumbilikal, Titik nyeri berpindah, nyeri tekan (erthritis). Tanda   :   Nyeri tekan abdomen/distensi.
7)    Keamanan
Gejala  : Riwayat lupus eritematosus, anemia hemolitik, vaskulitas. Artritis (memperburuk gejala dengan eksaserbasi penyakit usus). Peningkatan suhu tubuh 39,6-40˚C (ekaserbi akut). Penglihatan kabur, Alergi terhadap makanan/produk susu (mengeluarkan histamine kedalam usus dan mempunyai efek inflamasi. Tanda : Lesi kulit mungkin ada, misalnya eritema nodusum (meningkat,nyeri tekan, kemerahan dan membengkak) pada tangan, muka, pioderma gangrenosa (lesi tekan purulen/lepuh dengan batas keunguan) pada paha, kaki dan mata kanan. Ankilosa spondalitis. Uveitis, konjungtivitis/iritasi.
8)    Interaksi social
Gejala : Masalah berhubungan / peran sehubungan dengan kondisi .  Ketidakmampuan aktif secara social.
9)    Penyuluhan/pembelajaran
Gejala :   Riwayat keluarga berpenyakit inflamasi usus.
2. Analisa data
                Dengan melihat data subyektif dan data obyektif dapat menentukan permasalahan yang dihadapai klien dengan memperlihatkan masalah dapat di ketahui penyebab efek dari masalah tersebut. Dari analisa data di tentukan diagnosa keperawatan yang muncul.  (Doenges, 2000)
3. Diagnosa Keperawatan
         Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien diare anak :  
a.  Diare berhubungan dengan inflamasi, atau malabsorbsi usus

b.   Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan   banyak cairan (diare berat dan muntah).
c.  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorbsi nutrient.
d.   Ansietas berhubungan dengan factor psikologis / rangsang simpatis (proses inflamasi).
e.    Nyeri berhubungan dengan hiperperistaltik, diare lama, iritasi kulit, akskoreasi fisura oerirektal.
f.   Koping indivudu tidak efektif berhubungan dengan proses penyakit yang tidak diduga.
g.  Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat informasi atau tidak mengenal sumber. (Brunner dan Suddarth, 2000)
4. Intervensi Keperawatan
a. Diare berhubungan dengan inflamasi, atau malabsorbsi usus.
Tujuan:Melaporkan penurunan frekuensi defekasi,konsistensi kembali normal.
Intervensi
Rasional
1.  Observasi dan catat frekwensi devekasi, karakteristi, jumlah dan factor pencetus
2 . Tingkatkan tirah baring

3.  Identifikasi makanan dan cairan yang menyebabkan diare
4. Berikan cairan peroral, tawarkan  minum air putih tiap 1 jam.
   
5. Kolaborasi pemberian obat
    antikolinergi
1. Membantu membedakan penyakit individu dan mengkaji beratnya.
2. Istirahat menurunkan mobilitas usus juga laju metabolisme bila infeksi atau perdarahan sebagai komplikasi
3. Menghindarkan iritan,  meningkatkan istirahat usus.
4. Memberikan istirahat kolon dengan menghilanhkan atau menurunkan rangsang makanan / cairan.
5. Menurunkan mortilitas / peristaltic GI dan menurunkan sekresi digesti untuk menghilangkan kram dan diare    

b. Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan  kehilangan banyak  cairan (diare berat dan muntah)
Tujuan : Mempertahankan volume cairan adekuat.
Intervensi
Rasional
1. Awasi masukan dan haluan, karakter dan jumlah feses

2.  Kaji tanda vital

3.  Observasi kulit kering berlebihan dan membrane mukosa, penurunan turgor  Kulit, pengisapan kapiler lambat.
4.  Catat kelemahan otot umum atau
     Disritmia jantung

5.  Berikan cairan parenteral sesuai indikasi

6. Berikan obat sesuai indikasi antidiare
1. Memberikan informasi tentang
    Keseimbangan cairan
2. Hipotensi (termasuk postoral), takikardia demam dapat   menunjukkan terhadap  Efek / kehilangan cairan
3. Menunjukkan kehilangan cairan berlebih atau dehidrasi.

4. Kelemahan usus berlebihan dapat
    Menimbulkan ketidakseimbangan
    Elektrolit 
5. Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggantian cairan untuk memeperbaiki kehilanngan /anemia
6. Menurunkan kehilangan cairan dari usus

c . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan gangguan absorbsi   nutrient.
  Tujuan  :  Menunjukkan berat badan stabil atau peningkatan   berat badan sesuai   sasaran 
Intervensi
Rasional
1.      Timbang berat badan tiap hari

2. Dorong tirah baring dan/atau pembatasan aktifitas selama fase sakit akut.
3. Anjurkan istirahat sebelum makan

4.  Dorong pasien untuk menyatakan
    Permasalahaan mulai makan diet
5. Pertahankan puasa sesuai indikasi


6. Berikan nutrisi parenteral total, terapi  IV sesuai indikasi.
1. Memberikan informasi tentang kebutuhan diet / keefektifan terapi
2. Menurunkan kebutuhan metabolic untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.
3. Menenangkan peristaltic dan meningkatkan energi untuk makanan.
4. Keragu-raguan untuk makan mungkin dakibatkan oleh takut makanan akan menyebabkan eksaserbasi gejala.
5. Istirahat usus menurunkan peristaltic dan diare dimana menyebabkan malabsorbsi
    / kehilangan nutrient.
6. Program ini mengistirahatkan saluran GI sementara memberikan, 

d .Ansietas berhubungan dengan factor psikologis / rangsang simpatis (proses  inflamasi)
           Tujuan :  Menurunkan rileks dan melaporkan penurunan   ansietas sampai tingkat yang dapat ditangani. 
Intervensi
Rasional
1.  Dorong menyatakan perasaan,      berikan umpan balik 



2.  Akui bahwa ansietas dan masalah mirip dengan yang diekspresikan orang lain
3.  Bantu klien belajar mekanisme koping baru misalnya tekhnik mengatasi stress, keterampilan organisasi 
4.  Berikan lingkungan tenang dan istirahat 

5. Rujuk pada perawat spesialis psikiatri, pelayanan social, penasehat agama. 
1.  Membuat hubungan teraupetik,
     Membantu pasien / orang terdekat dalam mengidentifikasi masalah yang  menyebabkan stress. 

2. Validasi bahwa perasaan normal dapat membantu menurunkan stress. 
3. Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat membantu dalam menurunkan stress dan ansietas.
 4. Memindahkan klien dari stress luar, meningkatkan relaksasi, membantu menurunkan ansietas.
5. Di butuhkan bantuan tambahan untuk meningkatkan control dan mengatasi episode akut. 

e.  Nyeri berhubungan dengan hiperperistaltik, diare lama, iritasi kulit, anoreksia   fisura perirektal.
Tujuan  :  Melaporkan nyeri hilang / terkontrol  
Intervensi
Rasional
1. Dorong klien untuk melaporkan nyeri
2. Kaji laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10) selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.
3.Ijinkan klien untuk memulai posisi yang nyaman, misalnya ; lutut fleksi. 
4.Observasi / catat distensi abdomen, peningkatan suhu, penurunan tekanan darah.
5. Berikan obat sesuai indikasi  
     Analgesik.
1. Mencoba untuk mentoleransi nyeri dari pada  meminta analgesic. 
2. Perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukkan penyebaran penyakit/ terjadinya komplikasi, misalnya ;vistula kemih, perforasi, toksik megakolon.
3. Menurunkan tegangan abdomen dan meningkatkan rasa control.
4. Dapat menunjukkan terjadinya obtruksi usus karena inflamasi, edema, dan jaringan parut.
5. Nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan untuk memudahkan istirahat adekuat  dan penyembuhan.

f. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan proses penyakit yang tidak   diduga
Tujuan  : Menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk membatasi /  mencegah 
Intervensi
Rasional
1. Kaji pemahaman klien / orang terdekat dan metode sebelumnya dalam menerima proses penyakit.
2. Berikan kesempatan pada klien untuk mendiskusikan bagaimana penyakit telah mempengaruhi hubungan. 

3.Bantu klien mengidentifikasi keterampilan koping efektif secara individu. 
4. Masukkan klien atau orang terdekat dalam tim pertemuan untuk mengembangkan program individu .

1. Perawat mampu untuk menerima lebih nyata tentang masalah saat ini. 

2. Stressor penyakit mempengaruhi semua arah hidup dank lien mengalami kesulitan mengatasi perasaan lemah / nyeri. 
3. Penggunaan perilaku yang berhasil sebelumnya dapat membantu klien menerima situasi / rencana saat ini untuk masa datang 
4. Meningkatkan klontinuitas perawatan dan memampukan klien atau orang terdekat sebagai bagian perendanaan dan meningkatkan kerja sama dalam program terapi

g. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang mengingat informasi atau tidak mengenal sumber.
Tujuan  :  Menyatakan pemahaman proses penyakit / pengobatan .
Intervensi
Rasional
1.  Tentukan persepsi klien tentang peruses penyakit 

2. Kaji ulang proses penyakit, penyebab / efek hubungan factor yang menimbulkan gejala dan mengidentifikasi cara menurunkan factor pendukung. 
3.  Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosisi, dan kemungkinan efek samping. 

4. Tekankan pentingnya perawatan kulit, misalnya : teknik cuci tangan dengan baik dan perawatan parineal yang baik
1.Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar individu.
2. Faktor pencetus/ pemberat individu sehungga kebutuhan klien untuk waspada terhadap makanan, cairan dan factor pola hidup dapan mencetus gejala.

3. Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program kesehatan. 
4.  Menurunkan penyebaran bakteri dan resiko iritasi kulit / kerusakan infeksi

5. Implementasi Keperawatan
                  Implementasi dilakukan beradassarkan intervensi yang telah ditentukan kemudain disesuaikan dengan respond dan kondisi klien saat itu. Implementasi dilakukan dengan mengacu pada tujuan intervensi pada setiap diagnosa yaitu :

6. Evaluasi
    Hasil yang diharapkan
a.    Konsistensi feses kembali normal
b.    Klien memperlihatkan volume cairan yang seimbang
c.    Kebutuhan nutrisi terpenuhi
d.    Klien dan keluarga tidak mengalami kecemasan
e.    Klien tidak mengalami nyeri
f.     Koping individu efektif dan dapat merubah pola hidup
g.    Klien dan keluarga tahu tentang kondisi kesehatan dan penanganannya .